EDUKASI DUIT: Kekuasaan Itu 'Key Driving Force' Uang

Sebagian dari Anda, tentu sudah begitu akrab mengenai fungsi uang. Ya, uang selama ini dikenal sebagai alat tukar. Anda punya uang, saya punya barang, saya dan Anda bisa saling bertukar.
redaksi | 21 April 2017 13:44 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagian dari Anda, tentu sudah begitu akrab mengenai fungsi uang. Ya, uang selama ini dikenal sebagai alat tukar. Anda punya uang, saya punya barang, saya dan Anda bisa saling bertukar.

Akan tetapi, tak banyak yang tahu secara persis prinsip atau alasan, mengapa uang itu bisa Anda miliki. Menurut saya, inilah lima prinsip orang lain memberikan uang kepada Anda.

1. Alasan orang lain memberikan uang tidak selalu atas dasar kasihan atau iba. Coba perhatikan, kepada anak sendiri saja belum tentu kita asal memberi. Ada anggarannya, ada batasan. Mengapa, karena ini kaitannya dengan tanggung jawab. Iba bukan key driving force uang.

2. Apakah ada unsur kasihan? Ya namun lebih banyak unsur melatih tanggung jawab. Misalnya, memberi hadiah pun kepada anak harus sesuai dengan pencapaian mereka, tidak bisa asal memberi.

Ada orang tua yang memberikan anaknya unit apartemen, akibatnya anak-anak lainnya pun meminta, dan diberikan satu-satu. Tidak berhenti disitu, anaknya minta dibelikan apartemen kedua sampai semua anak-anaknya punya beberapa apartmen. Ternyata ujung-ujungnya, uang hasil pembelian apartemen diperoleh dari hasil korupsi.

3. Beberapa orang memiliki pemikiran bahwa uang dibayarkan atas dasar hak dan kewajiban. Misalnya, karyawan berprestasi memiliki hak untuk insentif. Namun, kenyataannya upah karyawan selalu tidak pernah seimbang sesuai dengan jerih payah yang dikeluarkan. Hak imbalan bukan key driving force uang.

Mengapa? Karena uang sama dengan kekuasaan. Seperti ada unsur kuasa atau power. Di saat power berada di atas, ya selamanya akan sulit diberikan kepada yang di bawah. Itu seperti bermain tenis tetapi lapangannya miring. Oleh karena itu perlu dibuat lapangan yang seimbang. 'Power' adalah  key driving force uang.

Oleh karena itu daripada memikirkan tentang uang, lebih baik kita mempelajari Ilmu kekuasaan. Salah satu caranya adalah mengerti kebutuhan golongan atas.

Ada yang mengatakan dorongan rasa bersyukur itu sulit ditemukan daripada dorongan rasa penyesalan. Jadi berapapun kontribusi Anda belum tentu akan disyukuri, apalagi diberi imbalan.

Harus ada pertukaran yang seimbang. Permasalahan kelompok atas selamanya tertutup. Lihat saja tembok istana Sultan di Yogyakarta, tinggi dan tebal. Ibaratnya, pintu masuk ke dalam Istana adalah rasa iba. Bukan iba kepada golongan bawah, namun rasa iba tepatnya 'rahmat' pengampunan Tuhan itu pintu rahasia mengerti masalah di dalam istana.

4. Oleh karena itu solusi masalah orang kaya adalah menjadi 'pertukaran' yang seimbang, dan harus ada alasan untuk apa mereka membayar dengan uang, karena itulah yang dimiliki mereka berlebih.

Bila ada pepatah ada 10 hal yang lebih tinggi nilainya daripada uang maka itu benar. Keikhlasan, sopan santun, integritas, pengorbanan, empati, keinginan menolong memang bernilai lebih tinggi daripada uang. Bila Anda mengerti, Anda akan ditukar dengan uang dalam jumlah besar.

5. Ada orang yang hidupnya miskin dan kebetulan sikapnya egois. Sampai sekarang pun tidak paham bagaimana uang berproses. Tentu saja karena egonya menutupi pandangan.

 

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Penulis buku seri money intelligent dan 10 buku manajemen, leadership, dan relationship

081219819915

Tag : investasi, peluang usaha
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top