Kekuatan Content dalam Konsep Diri

Konsep diri merupakan cerminan diri bagaimana memaknai diri sendiri, mengevaluasi diri, dan menyikapi diri. Secara keseluruhan, konsep diri juga menunjukkan seseorang memandang diri sendiri terkait dengan cara menampilkan diri dalam lingkungan sosialnya.
News Editor | 02 November 2014 09:20 WIB
Penampilan diri secara fisik memang ada batasnya tetapi penampilan diri secara emosional dan spiritual mungkin lebih langgeng dan membuat individu tetap menjadi diri sendiri. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Konsep diri merupakan cerminan diri bagaimana memaknai diri sendiri, mengevaluasi diri, dan menyikapi diri. Secara keseluruhan, konsep diri juga menunjukkan seseorang memandang diri sendiri terkait dengan cara menampilkan diri dalam lingkungan sosialnya.

Dengan demikian, individu akan berusaha untuk  menjaga penampilan diri sendiri seoptimal mungkin termasuk bagaimana mereka memandang orang dan lingkungan sosial sekitarnya.

Ada dua pendekatan dalam memahami konsep diri yaitu konsep diri secara content dan context. Di satu sisi, pemahaman content berkaitan dengan aspek kualitas, kompetensi, inteligensi, sikap, motivasi bahkan moral.

Di sisi lain, pemahaman context terkait dengan penampilan luar, fisik, ukuran, kecantikan, kekayaan fisik, dan aspek materi lainnya. Dengan kata lain, aspek content terkait dengan rasionalitas dan aspek benefit utama yang menjadikan seseorang itu bisa mengelola dirinya dengan lingkungan sosialnya.

Begitu juga dengan, aspek context, aspek ini terkait dengan penampilan luar atau fisik yang meyakinkan dan mempesona yang dijadikan sebagai dasar mengembangkan hubungan dalam lingkungan sosial.

Dalam kehidupan nyata, pandangan dua konsep tersebut sangat mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Masing-masing individu yang memiliki orientasi pada masing-masing pendekatan secara konsisten melakukannya dan memiliki aspek visibility terhadap lingkungan sosial secara terus menerus.

Pandangan content dijelaskan secara konkret bahwa individu akan selalu mengutamakan pentingnya untuk menjaga kualitas diri terkait dengan hal yang paling sederhana misalnya sikap rendah diri, kesederhananaan, kompetensi unggul, empati, caring, spiritualitas bahkan inteligensi yang ada dalam diri.

Kekuatan yang sifatnya tidak nyata atau intangible ini, dianggap penting dalam menjaga eksitensi dalam lingkungan sosial. Individu dengan pendekatan content akan memandang bukan dari fisik tetapi dari aspek nonfisik lah yang penting.

Individu tidak merasa percaya diri kalau dia tidak pintar atau memiliki sikap tertentu. Penampilan fisik menjadi prioritas terakhir. Istilah kerennya don't judge the book by its cover.

Pandangan context lebih menguatkan aspek fisik dan materi yang terlihat menonjol. Coba kita amati diri, apa saja yang sudah menempel pada tubuh kita mulai dari merek pakaian, tas, sepatu, perhiasan, make-up, kacamata (bila memakai), termasuk dompet dan isinya yang juga ada kartu kredit.

Selain merek, produk dan jasa yang menempel pada tubuh kita, tubuh secara fisik juga menjadi bagian yang ditonjolkan. Kecantikan fisik menjadi ukuran penting, sehingga tidak heran muncul jasa kecantikan secara estetika yaitu sulam alis, botox, pelangsingan, pemutihan kulit, pencangkokan rambut bahkan sulam bibir.

Selain kecantikan fisik, kekayaan dan posisi jabatan tertentu juga menjadi pertimbangan penting karena bisa menjadikan penguat konsep diri. Individu yang menonjolkan aspek context akan selalu merasa aspek fisik materi menjadi penting. Individu itu juga akan mengevaluasi orang lain berdasarkan penampilan fisiknya.

Tampaknya, perilaku konsumen sehari-hari yang bisa kita amati adalah cenderung yang context. Tampilan fisik menjadi lebih penting dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sosial. Individu yang berorientasi pada context akan selalu merasa percaya diri kalau bisa memiliki kecantikan, kesuksesan bahkan kekayaan.
 
Strategi Pasar

Dua pandangan ini memberikan warna dalam pengembangan strategi pemasaran karena bagi pemasar pasti akan menemui segmen konsumen yang menjadi sasarannya dalam menawarkan produk agar sesuai dengan konsep diri.

Bombardir penawaran produk atau jasa untuk menguatkan aspek fisik luar biasa banyak di dunia pemasaran. Namun, cukup menggembirakan dengan munculnya perusahaan yang berusaha untuk menguatkan sisi content individu misalnya John Robert Power atau fokus pada spiritualisme.

Pembelajaran yang bisa kita dapati adalah menguatkan yang bersifat content karena ini dianggap lebih langgeng, tidak mahal, dan bisa menguatkan diri sendiri lebih tenang; sedangkan penampilan fisik yang diupayakan terus menerus tidak bisa karena keterbatasan umur, fisik dan sumber daya.

Upaya untuk menguatkan aspek context dianggap lebih mahal dan membutuhkan usaha lebih besar. Tidak semua orang memiliki sumber daya untuk mengupayakan karena pasti  memerlukan biaya tidak sedikit untuk meningkatkan citra diri di mata orang lain.

Terlebih bagi individu yang memperhatikan salah satu bagian karunia tubuhnya dari Allah pasti berusaha untuk memaksimalkan bagian tubuh tersebut agar menjadi sesuatu yang bisa menjadi pendukung diri. Terlebih pula, bila individu tersebut merasa selalu memperhatikan citra diri dalam lingkungan sosial.

Penting bagi kita untuk menguatkan aspek content, tetapi kalau berpenampilan o.k., boleh saja asalkan tidak membikin diri sendiri terpaksa untuk mengupayakan dan merugikan orang lain.

Penampilan diri secara fisik memang ada batasnya tetapi penampilan diri secara emosional dan spiritual mungkin lebih langgeng dan membuat individu tetap menjadi diri sendiri. (Iin Mayasari, Dosen di Program Studi Manajemen Universitas Paramadina Jakarta)

Sumber : Bisnis Indonesia, Weekend (2/11/2014)

Tag : mobil konsep
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top