Tanggung Jawab Perusahaan Keluarga

Peranan perusahaan keluarga dalam perekonomian di berbagai negara sungguh luar biasa. Menurut data Family Firm Institute (FFI), perusahaan-perusahaan keluarga di seluruh dunia mampu menciptakan sekitar 70% hingga 90% produk domestik bruto (PDB) global setiap tahunnya.
News Editor | 02 November 2014 09:00 WIB
Bila tanggung jawab ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, perusahaan akan maju, masyarakat pun lebih sejahtera. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Peranan perusahaan keluarga dalam perekonomian di berbagai negara sungguh luar biasa. Menurut data Family Firm Institute (FFI), perusahaan-perusahaan keluarga di seluruh dunia mampu menciptakan sekitar 70% hingga 90% produk domestik bruto (PDB) global setiap tahunnya.

Di Kanada, sekitar setengah tenaga kerja di negara itu bekerja di perusahaan-perusahaan keluarga, yang menyumbang 45% dari PDB negara itu. Di Amerika Serikat, negara dengan perekonomian terbesar di dunia, porsi terbesar kekayaan dipegang oleh perusahaan-perusahaan keluarga, yang mempekerjakan sekitar 60% tenaga kerja negeri itu. Perusahaan-perusahaan seperti Wal-Mart, Hilton, dan Marriot dimiliki keluarga. 

Di Brasil, negara dengan perekonomian terbesar di Amerika Latin, mayoritas bisnis di negeri itu dimiliki keluarga. Perusahaan keluarga mencakup 70% dari kelompok-kelompok bisnis terbesar di Negeri Samba.

Perusahaan besar di Brasil yang dimiliki keluarga di antaranya adalah Gerdau, Ultra S.A., dan Andreade Gutierrez S. A.  Chile, negara dengan perekonomian termaju di Amerika Latin, sekitar 75% hingga 90% perusahaan-perusahaan di negara itu dimiliki dan dikendalikan keluarga.

Perusahaan keluarga di Chile pada umumnya terorganisasi dengan rapi dengan struktur komando yang didesentralisasi. Campur tangan pemegang saham relatif kecil.

Di Eropa, perusahaan keluarga juga memainkan peranan penting di negara-negara besar seperti Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, dan Italia. Hal yang sama terjadi di negara-negara yang lebih kecil perekonomiannya semisal Austria, Denmark, Irlandia, Norwegia, Portugal, dan Swedia.

Bahkan di negara-negara bekas komunis di kawasan Eropa timur seperti Ceko, Estonia, Hungaria, dan Latvia kondisinya tidak jauh beda. Perusahaan-perusahaan keluarga ternama asal benua biru  ini di antaranya adalah BMW, Henkel, Merck (Jerman); L'oréal (Prancis); FIAT, Parmalat (Italia); H&M (Swedia); Lego (Denmark);  Sainsburys (Inggris); dan Camper (Spanyol).

Jika di AS, Kanada, dan negara-negara Eropa yang masyarakatnya lebih individualistis ternyata perusahaan keluarga mendominasi, apatah lagi di negara-negara Asia dan Timur Tengah yang masyarakatnya lebih bersifat kolektif.

Pada saat ini, perusahaan keluarga tertua adalah Houshi Onsen, yang berada di Jepang. Perusahaan ini telah dikelola  oleh 46 generasi. Kemampuan perusahaan-perusahaan keluarga di Jepang untuk bertahan lama adalah berkat dimasukkannya menantu sebagai anggota dalam keluarga.

Hal ini memperluas kolam untuk penerus dan manajer-manajer bertalenta tinggi. Di Jepang, rata-rata kinerja perusahaan-perusahaan keluarga lebih baik ketimbang kinerja perusahaan-perusahaan nonkeluarga.
 
Pengaruh Perusahaan

Apa makna dari besarnya peran perusahaan-perusahaan keluarga dalam perekonomian ini? Hal ini menyiratkan signifikannya kontribusi perusahaan-perusahan keluarga dalam kehidupan orang banyak.

Artinya jika perusahaan-perusahaan keluarga ini bermasalah atau bangkrut, yang terkena dampak bukan hanya pemilik dan keluarganya, melainkan juga orang banyak, baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya, perusahaan keluarga wajib menjalankan segala aktivitasnya dengan penuh tanggung jawab.

Tanggung jawab perusahaan keluarga ini harus diarahkan baik ke dalam maupun ke luar perusahaan. Ke dalam, perusahaan bertanggung jawab kepada pemegang saham, yang dalam hal ini adalah anggota keluarga. '

Keluarga telah menginvestasikan sumber daya agar kegiatan perusahaan dapat berjalan lancar. Maka perusahaan harus senantiasa mengidentifikasi serta mengejar peluang-peluang pertumbuhan. Perusahaan juga harus mampu menghasilkan keuntungan dan kinerja tinggi. Semuanya bertujuan agar anggota keluarga bertambah makmur.

Namun, perlu diingat bahwa makmur saja tidak cukup. Perpecahan dalam keluarga kerap melanda justru pada saat perusahaan sedang berkembang. Agar makmur dan tetap rukun, keluarga harus mencegah sedini mungkin pecahnya konflik, merencanakan suksesi secara matang, dan membagi secara adil pendapatan yang diterima perusahaan.

Tanggung jawab ke dalam berikutnya adalah kepada karyawan. Berkat kerja keras, kontribusi, serta pengorbanan karyawanlah perusahaan dapat menjalankan berbagai macam aktivitasnya serta meraih kesuksesan. Oleh karenanya perusahaan dituntut untuk memberikan kompensasi yang adil serta memberikan peluang pengembangan karir bagi karyawannya.

Tentu saja hubungan antara perusahaan dengan karyawan ini harus didasarkan pada prinsip hubungan yang saling menguntungkan (mutually beneficial). Artinya perusahaan harus memberikan kompensasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, tetapi di lain pihak karyawan pun dituntut untuk memberikan kontribusi yang maksimal bagi kemajuan perusahaan.

Sayangnya, berdasarkan hasil survei, untuk posisi dan tanggung jawab yang sama, gaji yang diterima profesional nonkeluarga kerap lebih rendah dibandingkan dengan anggota keluarga.

Di samping ke dalam, perusahaan keluarga juga memiliki tanggung jawab ke luar. Kepada pelanggan, perusahaan wajib menyediakan produk dan layanan terbaik. Berkat pelangganlah perusahaan memperoleh pendapatan dan keuntungan. Dan yang tak boleh dilupakan, perusahaan keluarga memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Perusahaan memiliki kewajiban untuk berpartisipasi dalam usaha-usaha untuk meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi masyarakat, baik yang berkaitan dengan perusahaan maupun yang tidak.

Perusahaan juga bertanggungjawab untuk memelihara kualitas lingkungan tempat mereka beroperasi demi peningkatan kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang, baik untuk generasi saat ini maupun bagi generasi penerus. Termasuk tanggung jawab perusahaan keluarga adalah berperilaku etis sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Bila tanggung jawab ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, perusahaan akan maju, masyarakat pun lebih sejahtera. (Patricia Susanto, CEO of the Jakarta Consulting Group)

Sumber : Bisnis Indonesia, Weekend (2/11/2014)

Tag : perusahaan
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top