Senin, 20 Oktober 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

KIAT MANAJEMEN:Kepemimpinan yang Demokratis

Martin Sihombing   -   Rabu, 27 Februari 2013, 07:16 WIB

BERITA TERKAIT

--- Seorang pemimpin yang demokratis tidak akan mampu mencapai tujuannya apabila tidak didukung oleh pengikut-pengikutnya yang demokratis juga--

 

Demokratis merupakan istilah yang sering kita pahami sebagai satu hal yang sangat positif. Dalam perjalanan kepemimpinan di negeri ini, kita menganut tipe kepemimpinan yang demokratis.

 

Meskipun begitu, terkadang masih banyak pemimpin yang tidak memahami makna atau arti yang mendalam dari arti kata demokrasi itu sendiri. Untuk itu, penting bagi pemimpin menyadari betapa syarat makna dari arti itu dan perlu pengorbanan dalam mengaplikasikan hal tersebut.

 

Tanpa pemahaman terhadap makna demokratis itu, maka sulit baginya untuk mengimplementasikan dalam aktivitasnya sebagai pemimpin. Pemimpin yang demokratis tentu perlu melakukan upaya-upaya agar segala tindak tanduk dan perilakunya menjadikan dirinya sosok yang menjadi panutan.

 

Bila dicermati, banyak pemimpin yang secara teori dan pengetahuan tahu apa arti demokratis. Namun, pada saat praktik dan aplikasinya sangat bertentangan dengan yang seharusnya.  Akan tetapi ada kemungkinan pemahaman sosok pemimpin terhadap apa yang dia katakan benar-benar sangat sulit untuk dibuktikan dengan perilakunya. Memang tidaklah mudah untuk melakukan satu kata dengan perbuatan.

 

Istilah pemimpin secara umum merupakan interaksi antara dua atu lebih anggota dalam suatu institusi. Interaksi tersebut cenderung sering melibatkan bentuk dari situasi dan persepsi dari setiap anggota kelompok tersebut.

 

Berkaitan dengan istilah umum tersebut menunjukkan bahwa jika seorang pemimpin hendak memimpin secara demokratis maka perlu menciptakan interaksi yang melibatkan setiap anggota dalam kelompok.

 

Kendala-kendala dan hambatan dapat  terjadi saat pemimpin menjalankan kepemimpinannya. Meskipun terkadang, sosok pemimpin ‘merasa’ dan ‘menunjukkan’ bahwa dirinya telah melakukan yang maksimal untuk kelompoknya. Akan tetapi, hal tersebut bisa saja diterima oleh orang yang dipimpinnya.

 

Perbedaan persepsi inilah yang dapat mengganggu jalannya setiap tugas yang diberikan.  Kendala tersebut di antaranya adalah  interupsi yang sangat bertolak belakang atau berseberangan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin. Kendala ini menjadikan tidak kuatnya hubungan keduanya. Kendala lain adalah pemimpin yang tidak memberikan dukungan kepada orang-orang yang dipimpinnya agar dapat menciptakan hubungan yang positif.

 

Pemimpin yang demokratis harus mampu untuk mendistribusikan tanggung jawab secara benar. Selain itu, juga dia harus mampu menempatkan kekuatan yang dimiliki oleh setiap anggota dalam kelompok.

 

Namun memang hal tersebut bukan merupakan perkara mudah. Oleh karena itu pemimpin dituntut untuk mampu memberikan segenap waktu dan energinya agar dapat membuat orang-orang yang dipimpinnya yakin dan dia mampu membuat keputusan yang demokratis.

 

Dukungan

 

Seorang pemimpin yang demokratis tidak akan mampu mencapai tujuannya apabila tidak didukung oleh pengikut-pengikutnya yang demokratis juga. Untuk itu baik pemimpin maupun orang-orang yang dipimpin harus saling terkait dan saling memahami satu sama lain.

 

John Gastil  dari University of Wisconsin-Madison, USA (1994) mengemukakan bahwa terdapat beberapa hal penting bagi pengikut yang demokratis agar memiliki tanggung jawab. Pertama, pengikut demokratis harus siap untuk mengambil tanggung jawab untuk kesejahteraan mereka. Hal ini penting karena keseimbangan dengan kebebasan merupakan faktor penting menanamkan rasa tanggung jawab individu untuk bekerja sama dalam kelompok.

 

Pengikut yang demokratis tidak begitu saja menerima tugas yang diberikan pemimpin. Akan tetapi mereka tetap berkesempatan untuk menyatakan hal-hal yang terkait dengan tanggung jawabnya.

 

Hal ini menunjukkan bahwa interaksi dan komunikasi kedua belah pihak menjadi faktor penting. Untuk menciptakan komunikasi tersebut, memang dibutuhkan pemahaman yang mendalam antara kedua belah pihak baik itu pemimpin maupun orang yang dipimpin. Bila hal tersebut terhambat maka tidak akan memunculkan keseimbangan dalam mengemban tanggung jawab bersama.

 

Kedua,  orang-orang yang dipimpin harus memiliki tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan dan putuskan. Jika anggota dalam kelompok tidak menyetujui keputusan bersama, maka mereka harus mampu untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas tetapi tetap dibarengi dengan sikap dan cara yang tepat. Hal ini akan dapat melatih setiap anggota kelompok untuk memiliki ketrampilan bernegosiasi dengan tetap menjaga dan membangun setiap policy yang ada.

 

Ketiga, pengikut yang demokratis memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk tetap menjaga kemandirian mereka. Pemimpin yang tidak demokratis kemungkinan akan meng-eliminasi anggota-anggota yang yang tidak sejalan dengan mereka.

 

Pemimpin demokratis memberikan kebebasan yang bertanggung jawab kepada pengikutnya. Oleh karena itulah orang-orang yang dipimpin harus mampu untuk melatih dirinya secara teratur untuk tetap memiliki kebebasan, pengakuan, penghargaan, dan penjagaan dari pemimpinnya.

 

Keempat, tanggung jawab anggota merupakan sesuatu hal yang harus juga diakui oleh pemimpinnya. Pengikut yang demokratis sebaiknya secara terus menerus mengembangkan kemampuan kepemimpinannya. Hal ini akan membuktikan bahwa mereka mampu memimpin dan juga dipimpin. Idealnya, keduanya memiliki peran yang secara konstan mampu untuk melakukan perubahan setiap menit, jam, bulan atau tahun.

 

Kelima, setiap individu akan memainkan peran baik itu sebagai pemimpin dan juga orang yang dipimpin. Terkait dengan peran tersebut maka setiap individu harus dapat bekerja sesuai dengan perannya tersebut. Saat seseorang menjadi anggota maka dia harus bekerja sesuai ‘perintah’. Apabila terjadi penolakan atas peran yang dilakukannya maka akan berdampak pada tujuan yang ingin dicapai dalam suatu institusi.

 

Bila dalam kepemimpinan telah terjalin suatu interaksi dan komunikasi yang bertanggung jawab maka diharapkan segala rancangan dan rencana akan dapat diwujudkan. Untuk itu, pemimpin yang demokratis harus mampu memainkan perannya agar dapat menjadikan citra dirinya menjadi lebih baik.

 

Penting bagi pemimpin yang demokratis untuk memfasilitasi antara dirinya dan orang yang dipimpinnya agar dapat terlibat dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Dalam setiap aktivitasnya tentu akan ditemui kendala-kendala yang dapat mengganggu dan menghambat untuk meraih tujuan tersebut. Pemimpin yang baik dan demokratis diharapkan mampu memfasilitasi perasaan dan pikiran setiap anggotanya agar dapat meneruskan visi dan meraih tujuan yang diinginkan.(msb)

 

*Dosen Psikologi Universitas Paramadina


Source : Fatchiah E Kertamuda

Editor : Other

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Beli Buku, Data, ePaper, Indonesia Business Daily bisa dengan kartu kredit. Klik di sini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik di sini!

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.