Kamis, 24 April 2014 RSS Feed Videos Photos ePaper English Version

FINANCIAL PLANNING: Daur Hidup Perencanaan Keuangan

Editor   -   Senin, 07 Januari 2013, 19:07 WIB

BERITA TERKAIT

JAKARTA—Perencanaan keuangan praktis dibutuhkan oleh siapapun yang menginginkan kemerdekaan finansial.

Manusia membutuhkan perencanaan keuangan sepanjang hidupnya. Ketika janin mulai bertumbuh di rahim seorang ibu, orang tua yang bertanggungjawab sudah harus membuat perencanaan keuangan untuk jabang bayi yang akan lahir ke dunia.

Kebutuhan finansial untuk periode pre natal, biaya saat melahirkan, kebutuhan membesarkan bayi, pendidikan usia dini sampai biaya hidup dan pendidikan sampai sang anak menjadi manusia produktif, merupakan tanggung jawab orang tua. Dan semua itu membutuhkan perencanaan keuangan. Raising children has enormous financial implications.

Dalam dataran praktis, perencanaan keuangan  merupakan alat yg digunakan untuk mencapai target target finansial yang telah disusun dan ditetapkan terlebih dahulu.  Target finansial, seperti target target lain dalam sebuah perencanaan, haruslah memiliki unsur unsur SMART. Target haruslah specific, yaitu menetapkan dengan jelas apa yang akan dilakukan.

Target harus measurable, terukur secara kuantitatif. Target harus attainable dan realistic,  bisa dicapai dan tahu bagaimana cara mencapainya. Target  harus pula memiliki unsur time bond, limit waktu yang tersedia untuk mencapai target tersebut.

Ada dua pokok penting yang perlu dikemukakan dalam membahas perencanaan keuangan selama perjalanan hidup manusia. Pertama setiap manusia memiliki kondisi dan kebutuhan finansial yang berbeda beda. Karena itu perencanaan keuangan untuk tiap individu akan berbeda pula.

Perencanaan keuangan dipengaruhi oleh  faktor faktor seperti umur, status perkawinan, posisi pekerjaan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, keadaan kesehatan pada umumnya, dan jumlah tanggungan.

Kedua, fokus tulisan kali ini adalah perkembangan perencanaan keuangan berdasar perkembangan umur seseorang. perencanaan keuangan seorang bayi tentu berbeda dengan perencanaan keuangan seorang yang akan memasuki usia pensiun. Life tends to progress along a series of stages.

Pada saat menjadi tanggungan orang tua, seorang anak melakukan dis-saving, karena memerlukan konsumsi tapi tidak memiliki penghasilan. Pada tahap berikutnya, sebagai orang muda yang baru memasuki lapangan pekerjaan, mungkin seorang pekerja yang belum berkeluarga berusaha mencukupkan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Ketika karirnya atau hasil usaha  menanjak, seseorang akan mulai melakukan saving. Ini merupakan periode akumulasi kekayaan, dan menunda konsumsi untuk kebutuhan pada periode pensiun.

Modigliani and Brumberg dalam salah satu studinya membagi tahapan perjalanan hidup sesorang ke dalam beberapa situasi finansial sebagai berikut.


 

Individual supported by parents

income very low

few financial decisions

Young single

income barely matches expenditures - no significant savings

financial decisions tend to be mostly short term

purchase car, clothes, music systems

budgeting is important

Young couple, no children

income greater than expenditures - some savings

purchase home furnishings

purchase home

Couple (or individual) with children

income approximately equal to expenditures

upgrade house

purchase children’s toys, clothing, and supplies

purchase life insurance

college tuition expenses

debt management is important

Empty nesters

income greater than expenditures

purchase investments

retirement planning is important

tax considerations are important

Retired

income less than expenditures

live off of savings

purchase medical and nursing services

estate planning is important

Tiap tahapan secara langsung akan mempengaruhi alokasi aset. Bahasan rinci tentang jenis aset keuangan dan proses alokasi aset ini akan kita bicarakan pada kolom kolom yang akan datang.

Namun pada dasarnya, proses alokasi penghasilan seseorang pada dasarnya bisa digambarkan seperti kerucut di bawah ini. Pada lapisan paling bawah, adalah foundation capital, pemenuhan kebutuhan dasar berupa sandang pangan papan dll.

Sisa konsumsi akan dialokasikan ke dalam core investment, tabungan likuid untuk tujuan berjaga jaga, disimpan dalam bentuk aset dengan risiko terbatas dan harapan keuntungan yang terbatas pula.

Setelah lapisan itu terpenuhi alokasi berikutnya, ke dalam more aggressive investment,  aset yang memiliki risiko lebih tinggi dan harapan keuntungan yang lebih tinggi pula. Lapisan paling atas dalam kerucut adalah speculative investment. Alokasi ke dalam aset dengan risiko dan harapan keuntungan yang sangat tinggi.

Wrap up  secara umum  daur hidup perencanaan keuangan bisa dirangkum sebagai berikut:

-        Daur hidup finansial paling tidak dapat dibagi ke dalam tiga tahapan: periode pra produktif, ketika sesorang belum memperoleh penghasilan; periode produktif ketika seseorang berusaha mengakumulasikan aset yang dihasilkannya dan periode ketika memasuki usia pensiun, dan mengkonsumsi hasil hasil yang diperoleh dari periode sebelumnya.

-       Alokasi aset seseorang juga akan berubah dari waktu ke waktu, bukan saja karena tahapan dalam kehidupannya juga bergerak maju tapi juga karena kondisi pasar dan ekonomi pada umumnya juga berubah dari waktu ke waktu

-        Perubahan kondisi ekonomi yang diahadapi dan kondisi keuangan seseorang, mengharuskan perencanaan keuangan juga dievaluasi dan direvisi dari waktu ke waktu. (sut)

*) Hasan Zein Mahmud adalah Tim Ekselensi dan Staf Pengajar pada KWIK KIAN GIE School of Business


Source : Hasan Zein Mahmud *)

Editor : Sutarno

Berlangganan Epaper Bisnis Indonesia Cuma Rp10 Juta Seumur Hidup, Mau? Klik disini!
 

Bisnis Indonesia Writing Contest berhadiah utama Mobil Daihatsu Ayla mulai menayangkan tulisan peserta 1 April 2014. Ayo “Vote & Share” sebanyak-banyaknya DI SINI.

Layak Disimak

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.